Senin, 21 November 2011

heartache

Jalanan sepi.
Langit mendung.
Angin bertiup kencang
Aku merapatkan jaket, namun tubuhku tetap saja menggigil. Bukan karena angin, karena saat ini aku sama sekali tidak bisa merasakan apa pun. Sepertinya saraf-sarafku sudah tidak berfungsi. Aku tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara, dan tidak bisa merasakan apa-apa.

Kecuali rasa sakit di hati, aku hanya bisa merasakan yang satu itu, sakit sekali.....

Butuh tenaga besar untuk menyeret kakiku dan maju selangkah. Sebelah tanganku terangkat ke dada, sebelah tanganku terangkat menutupi mata, menutupi air mataku. Jangan marah padaku kalau aku menangis, hari ini saja. Kau boleh lihat sendiri nanti. Kau akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali bekerja, tertawa, dan mengoceh seperti biasa, aku janji.

Kalau boleh jujur, dulunya aku sama sekali tidak suka sekolah ini, aku juga benci dengan keadaan ini.
Tapi akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi, sekolah ini berubah menjadi tempat yang indah tepat didepan mataku. Laki-laki itu yang membuat segalanya berubah. Mengherankan sekali, aku tidak peranah menganggap diriku gampang dipengaruhi, tetapi kenapa laki-laki itu dengan mudahnya membuatku berubah pikiran? aneh sekali, kenapa hanya melihat laki-laki itu saja aku bisa merasa gembira? Pada kenyataannya aku memang ingin memeluknya. Rasanya wajar sekali memeluknya, rasanya menyenangkan. Untuk sesaat sepertinya aku bisa melupakan masalahku, melepaskan ketegangan dipundakku, dan bernafas lega. Hanya saja memeluk laki-laki itu juga menimbulkan kesadaran baru, dan masalah baru.
Entah sejak kapan perasaan ini timbul dari dalam diriku, tapi setelah apa yang kulakukan tadi, aku sadar aku tidak sanggup menjauhinya. Aku sudah jatuh terlalu dalam dan tidak bisa keluar lagi.
Tidak bisa keluar..... Atau tidak mau keluar?
Entahlah, yang pasti ini artinya masalah

Aku melihat senyumnya. Senyum yang membuat hatiku terasa ditusuk tusuk. Caranya berjalan, caranya tersenyum, caranya berbicara. Dan matanya....menatap mataku.
Aku tidak tidur semalaman, anehnya aku tidak mengantuk, hanya saja aku merasa tidak bertenaga, tidak bisa dan tidak ingin melakukan apapun.

Aku tetap belum bisa menerima kenyataan, masih berharap semua ini mimpi buruk dan aku akan terbangun. Pikiranku kosong karena hati kecilku menolak berpikir. Aku tidak merasakan apapun, karena sarafku menolak merasakan. Lebih baik aku tidak berfikir. Lebih baik sarafku mati rasa. Kalau tidak, aku takkan sanggup menanggung rasa sakit ini. Terlalu besar.
Saat itu rasa cemas mulai menjalari diriku. Dimana dia sekarang? Sedang apa dia? Semua rasa itu sekarang campur aduk diotakku. Aku sakit. Rasa sakit didadaku kian menusul. Nyaris tak tertahankan. Aku tak sanggup menanggungnya lagi. Tuhan, tolonglah aku... Ambil rasa sakit ini dariku.

Yah aku mulai menangis saat kau katakan " aku tidak pernah menyesal mengenalmu, percayalah kepadaku"
Air mataku nyaris jatuh didepannya.
"Berjanjilah padaku, kau akan baik-baik saja'" katanya
Aku tidak mau, aku tidak sanggup berjanji, aku tau ini kata- kata perpisahan. Aku belum siap. Jangan pergi....

Ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak boleh dicintai? Aku tau!
Aku memang baru mengenalnya, tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba aku sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku. Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya, aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya, walaupun itu berarti aku menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap melihatnya. Mungkin suatu hari nanti, aku tidak tahu kapan, rasa sakit ini akan hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar